Friday, 21 June 2013

Kabut Semakin Tebal  















Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Pernapasan
Fikri Faisal, Faisal Yunus, Fachrial Harahap
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Persahabatan, Jakarta, Indonesia
31
Tinjauan Pustaka
CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012
dan hal lain yang mempengaruhi cuaca,
baik asap tersebut baru atau lama. Jenis
kayu dan tumbuhan lain yang terdiri dari
selulosa, lignin, tanin, polifenol, minyak,
lemak, resin, lilin dan tepung, akan membentuk
campuran yang berbeda saat
terbakar.5,6,8
Materi partikulat atau Particulate Matter
(PM) merupakan bagian penting dalam
asap kebakaran untuk pajanan jangka
pendek (jam atau mingguan). Materi partikulat
adalah partikel tersuspensi, yang merupakan
campuran partikel solid dan droplet
cair. Karakteristik dan pengaruh potensial
materi partikulat terhadap kesehatan tergantung
pada sumber, musim, dan keadaan
cuaca.
Materi partikulat dibagi menjadi:
• Ukuran lebih dari 10 mm biasanya tidak
sampai ke paru; dapat mengiritasi mata,
hidung dan tenggorokan.
• Partikel kurang atau sama dengan 10 mm;
dapat terinhalasi sampai ke paru.
• Partikel kasar (coarse particles) berukuran
2,5 – 10 mm.
• Partikel halus (fine particles) berdiameter
kurang dari 2,5 mm.
Partikel debu atau materi partikulat melayang
(suspended particulate matter) merupakan
campuran sangat rumit berbagai
senyawa organik dan anorganik di udara
dengan diameter <1 μm sampai maksimal
500 μm. Materi partikulat akan berada
di udara dalam waktu relatif lama dalam
keadaan melayang dan masuk ke dalam
tubuh manusia melalui saluran pernapasan.
Karena komposisi materi partikulat
yang rumit dan pentingnya ukuran partikulat
dalam menentukan pajanan, banyak
istilah digunakan untuk menyatakan
materi partikulat di udara. Beberapa istilah
mengacu
pada metode pengambilan
sampel udara seperti suspended particulate
matter (SPM), total suspended particulate
(TSP) atau ballack smoke. Istilah lain lebih
mengacu pada tempat di saluran napas,
tempat materi partikulat mengendap yaitu
inhalable thoracic particulate yang terutama
mengendap pada saluran napas bagian
bawah.8,12
Partikel asap cenderung sangat kecil dengan
ukuran hampir sama dengan panjang
gelombang cahaya yang terlihat atau 0,4-
0,7 mm. Partikel asap tersebut hampir sama
dengan fraksi partikel PM2,5 sehingga dapat
menyebar dalam cahaya dan mengganggu
jarak pandang. Partikel halus dapat
terinhalasi ke dalam paru sehingga lebih
berisiko mengganggu kesehatan dibandingkan
partikel lebih besar. Polutan lain
yang berbahaya adalah karbon monoksida
yang tidak berwarna, tidak berbau, yang
dihasilkan dari pembakaran kayu atau material
organik yang tidak sempurna. Kadar
tertinggi karbon monoksida adalah saat
smoldering, khususnya dekat api. Polutan
udara lain yang dapat mengiritasi saluran
pernapasan yaitu akrolein, formaldehid,
dan benzena - karsinogen dalam jumlah
lebih rendah dibandingkan materi partikulat
dan karbon monoksida. Secara umum,
peningkatan kadar PM 10 μm di udara dihubungkan
dengan:3
• Peningkatan berbagai keluhan pernapasan
• Peningkatan kunjungan ke instansi gawat
darurat
• Peningkatan rawat inap dan risiko kematian
• Eksaserbasi akut asma bronkial dan penyakit
paru obstruktif kronik.
Karakteristik asap kebakaran
Beberapa faktor yang berperan seperti cuaca,
fase kebakaran dan struktur tanah dapat
mempengaruhi sifat api dan efek asap
kebakaran. Secara umum cuaca berangin
membuat konsentrasi asap lebih rendah karena
asap akan bercampur dengan udara.
Sistem cuaca regional akan membuat api
kebakaran menyebar lebih cepat dan membawa
dampak yang lebih besar. Intensitas
panas, khususnya saat awal kebakaran akan
membawa asap ke udara dan menetap, kemudian
turun jika suhu menurun. Asap kebakaran
pertama biasanya langsung dibawa
angin sehingga menjadi prediksi area yang
terbakar.4
Beberapa produk pembakaran dikategorikan
sebagai berikut:5,6,8
1. Partikel
2. Polynuclear aromatic hydrocarbon
3. Karbon monoksida
4. Aldehid
5. Asam organik
6. Semivolatile dan senyawa organik yang
mudah menguap
7. Radikal bebas
8. Ozon
9. Fraksi partikel anorganik.
Penilaian polusi udara
Beberapa negara seperti Singapura dan
Brunei Darusalam menggunakan pollutant
standard index (PSI) yang dikeluarkan
oleh United States Evironmental Protection
Agency (USEPA) untuk melaporkan konsentrasi
populasi udara sehari-hari. Indonesia
menggunakan istilah Indeks Standar
Pencemaran Udara (ISPU) atau PSI dengan
pembagian sebagai berikut :2
• PSI 0 – 50 : sehat
• PSI 51- 100 : sedang
• PSI 101 – 199 : tidak begitu baik
• PSI 200 - 299 : tidak sehat
• PSI 300 – 399 : berbahaya
• PSI ≥400 : sangat berbahaya
Udara tercemar akan masuk ke dalam tubuh
manusia dan mungkin mempengaruhi
paru dan saluran napas. Komponennya
juga diedarkan ke seluruh tubuh; artinya
selain terhisap langsung, manusia dapat
menerima akibat buruk polusi ini dan secara
tidak langsung dapat mengkonsumsi
zat makanan atau air yang terkontaminasi.
Polusi udara lain yang berdampak buruk
pada kesehatan adalah Ozon (O3), radiasi
pengion dan asap rokok.
Penilaian polusi udara perlu memperhatikan
beberapa hal meliputi :2
• Partikel: TSP, PM 10, PM 2,5, PM 1,0
• Gas: CO, NOx , SO2
• Variasi geografis
• Variasi cuaca
• Faktor meteorologi.
Asap biomassa yang keluar pada kebakaran
hutan mengandung beberapa
komponen yang dapat merugikan kesehatan
baik dalam bentuk gas maupun
partikel. Komponen gas dalam biomassa
besar yang mengganggu kesehatan adalah
karbon monoksida (CO), sulfur dioksida
(SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan
aldehid. Beberapa senyawa lain seperti
ozon (O3), karbon dioksida (CO2) dan
hidrokarbon juga mempunyai dampak
buruk terhadap paru. Bebagai jenis gas
golongan nitrit dan nitrogen organik bisa
32
Tinjauan Pustaka
CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012
terbang jauh dan dapat dikonversi menjadi
gas lain seperti ozon atau menjadi
partikel dan nitrit organik.2 Partikel akibat
asap kayu yang terbakar hampir seluruhnya
berukuran <1 μm, sebagian besar
antara 0,15 sampai 0,4 μm.
Polusi di dalam rumah mempunyai dampak
lebih besar karena penghuni rumah akan
terpajan asap dalam konsentrasi tinggi selama
bertahun-tahun. Pajanan kebakaran
hutan biasanya berlangsung selama 4 – 5
bulan dalam setahun dan intensitasnya tergantung
pada luas kebakaran hutan.3
Mekanisme umum akibat kebakaran
Proses kebakaran adalah sebuah proses
kompleks yang melibatkan api, bahan bakar,
faktor iklim termasuk ketinggian dan
meteorologi. Pembakaran bahan organik
adalah proses oksidasi yang menghasilkan
uap air dan karbondioksida (CO2) sehingga
terbentuk senyawa yang tidak teroksidasi
sempurna (misalnya karbon monoksida)
atau terbentuk senyawa tereduksi (misalnya
metana dan amonia). Senyawa ini ditemukan
dalam asap yang terdiri dari partikel terhirup
iritan dan gas serta dalam beberapa
kasus mungkin karsinogenik. Asap sendiri
adalah kompleks campuran dengan komponen
yang bergantung pada jenis bahan
bakar, kadar air, bahan bakar aditif seperti
pestisida yang disemprot pada dedaunan
atau pohon.10
Pengaruh asap terhadap kesehatan terjadi
melalui berbagai mekanisme, antara lain
iritasi langsung, kekurangan oksigen yang
menimbulkan sesak napas, serta absorpsi
toksin. Cedera termal (luka bakar) terjadi
pada daerah terkena pada permukaan
eksternal tubuh, termasuk hidung dan
mulut; luka bakar di bawah trakea jarang
terjadi karena adanya efisiensi saluran
napas bagian atas yang menyerap panas.
Kematian karena menghirup asap tanpa
luka bakar jarang terjadi (sekitar <10%),
sedangkan kematian karena menghirup
asap dengan luka bakar lebih sering, yaitu
sekitar 30-50%.7
Dampak asap terhadap kesehatan
Penurunan kualitas udara sampai taraf
membahayakan kesehatan dapat menimbulkan
dan meningkatkan penyakit saluran
napas seperti infeksi saluran napas
akut (ISPA). Penderita ISPA di daerah
bencana asap meningkat 1,8 – 3,8 kali dibandingkan
jumlah penderita ISPA pada
periode sama tahun-tahun sebelumnya.8,10
Pada saat kebakaran hutan tahun lalu,
kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat
sudah pada tahap membahayakan kesehatan
dengan kadar debu >1.490 μg/m3
(batas yang diperkenankan 230 μg/m3).
Kabut asap akibat kebakaran hutan telah
merambah ke berbagai propinsi seperti
Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan
Riau bahkan sudah mencapai Malaysia
dan Thailand.2,5
Asap menimbulkan iritasi mata, kulit dan
gangguan saluran pernapasan yang lebih
berat, fungsi paru berkurang, bronkitis,
asma eksaserbasi, dan kematian dini. Selain
itu konsentrasi tinggi partikel-partikel iritasi
pernapasan dapat menyebabkan batuk
terus-menerus, batuk berdahak, kesulitan
bernapas dan radang paru. Materi partikulat
juga dapat mempengaruhi sistem
kekebalan tubuh dan fisiologi melalui mekanisme
terhirupnya benda asing ke paru.
Dampak yang ditimbulkan tergantung dari
individu seperti umur, penyakit pernapasan
sebelumnya, infeksi dan kardiovaskuler dan
ukuran partikel.12
Zat asap kebakaran yang mengenai saluran
napas: 3,7,10
• Karbon monoksida (CO) beredar melalui
aliran darah dan paru, mengurangi
pengiriman oksigen ke jaringan tubuh
(anoksia) menimbulkan gejala sesak napas,
kebingungan, dan dada terasa berat.7
Konsentrasi CO pada penduduk tertentu
yang terpajan asap api tidak menimbulkan
bahaya bermakna kecuali pada individu
yang sensitif; mereka yang memiliki
penyakit jantung mengalami nyeri dada
dan aritmia. Pada tingkat pajanan lebih
tinggi CO dapat menyebabkan sakit
kepala, lemah, pusing kebingungan, disorientasi,
gangguan penglihatan, koma
dan kematian.
• Sulfurdioksida (SO2), gas pedas yang bisa
menimbulkan sesak napas, mengi karena
bronkokonstriksi selanjutnya mengiritasi
mukosa pernapasan.
• Nitrogendioksida (NO2) dikeluarkan selama
kebakaran suhu tinggi seperti saat
kebakaran badai.
• Ozon (O3) dapat mengiritasi tenggorokan.
• Sianida (CN-) dihasilkan oleh pembakaran
bahan-bahan alami dan sintetik
bila kadar laktat tinggi; dapat berguna
sebagai indikator di rumah sakit.
Tabel 1. Pengaruh polutan asap kebakaran pada sistem pernapasan dan organ lain4
Polutan Mekanisme Efek potensial pada kesehatan
Partikulat (partikel kecil < 10 μ,
diameter aero dinamik < 2.5 μ
• Akut: iritasi bronkus, inflamasi dan
reaktivitas meningkat
• Berkurangnya bersihan mukosilier
• Mengurangi respons makrofag
dan imunitas lokal
• Reaksi fibrotik
• Mengi, asma eksaserbasi
• Infeksi saluran napas
• Bronkitis kronik dan PPOK
• PPOK eksaserbasi
Karbon monoksida • Berikatan dengan hemoglobin
menghasilkan karboksi hemoglobin
yang dapat mengurangi transport
oksigen ke organ vital dan
menyebabkan gangguan janin
• Berat badan bayi lahir rendah
• Meningkatnya kasus kematian
perinatal
Hidrokarbon aromatik polisiklik
(benzo-alpyrene)
Karsinogenik • Kanker paru
• Kanker mulut, nasofaring dan laring
Nitrogen dioksida • Pajanan akut menyebabkan
reaktivitas bronkus
• Pajanan kronik dapat meningkatkan
kerentanan infeksi bakteri
dan virus
• Mengi, asma eksaserbasi
• Infeksi saluran napas
• Berkurangnya fungsi paru anak
Sulfur dioksida • Pajanan akut menyebabkan
reaktivitas bronkus
• Pajanan kronik sulit untuk memisahkan
efek partikel
• Mengi, asma eksaserbasi
• PPOK eksaserbasi
• Penyakit kardiovaskuler
Kondesat asap biomass, termasuk
hidrokarbon aromatik polisiklik
dan ion metal
• Absorpsi racun ke dalam lensa sehingga
terjadi perubahan oksidatif
• Katarak
33
Tinjauan Pustaka
CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012
• Hidrokarbon, contohnya gas benzene
hasil pembakaran bahan organik yang
tidak sempurna.
• Aldehid (akrolin, formaldehid/HCHO)
hasil pembakaran bahan organik yang
tidak sempurna.
• Materi Partikulat (PM), bisa padat atau
cair, dihasilkan dari pembakaran tidak
sempurna dengan ukuran dari 0,005 μm
sampai 100 μm, dapat menembus saluran
napas sampai ke paru.
Inhalasi merupakan satu-satunya jalur pajanan
yang menjadi perhatian kesehatan.
Pengaruh materi partikulat bentuk padat
maupun cair di udara sangat tergantung
pada ukurannya. Ukuran materi partikulat
yang membahayakan kesehatan umumnya
berkisar antara 0,1 – 10 μm. Partikulat 5
μm dapat langsung masuk ke dalam paru
dan mengendap di alveoli. Partikulat >5
μm juga berbahaya karena partikulat dapat
menganggu saluran pernapasan bagian atas
dan dapat menyebabkan iritasi. Keadaan ini
akan bertambah parah apabila terjadi reaksi
sinergis dengan gas SO2 di udara.13 Kondisi
kronik terpajan polusi udara beracun dengan
konsentrasi tinggi sedikit meningkatkan
risiko kanker. 6
Bagian Pulmonologi FKUI/RS Persahabatan
dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
(PDPI) cabang Jakarta yang berkunjung ke
Palembang pada awal Oktober 1997 menemukan
dari 158 orang yang sebelumnya
sehat, 128 orang (81%) mengeluh batukbatuk,
38 orang (24,1%) mengeluh sesak
napas, 30 orang (19%) mengeluh batuk berdahak
dan 14 orang (8,9%) mengeluh nyeri
dada. Dari 54 orang yang memiliki riwayat
penyakit paru, 45 orang (83,3%) mengeluh
batuk-batuk, 36 orang (66,7%) mengeluh
berdahak dan 2 orang (3,7%) mengeluh
nyeri dada.2
Populasi rentan
Kebanyakan orang dewasa sehat dan anakanak
akan sembuh dengan cepat dari pajanan
asap dan tidak akan mendapat efek
jangka panjang. Namun, populasi sensitif
tertentu dapat mengalami gejala kronik
yang lebih berat. Bahan yang terkandung
dalam asap kebakaran hutan dapat mengiritasi
mukosa serta mencetuskan gangguan
pernapasan akut dan kronik seperti
asma, bronkitis, penurunan faal paru, kanker
sampai kematian. Gangguan fungsi
makrofag, peningkatan kadar albumin dan
laktosa dehidrogenase yang menunjukkan
kerusakan membran sel serta kerusakan sel
epitel dapat ditemukan akibat pajanan asap
kebakaran hutan.3,6,11
Pada pasien penyakit jantung terdapat
hubungan antara peningkatan serangan
jantung dengan jumlah partikel asap
di udara. Orang berusia tua mudah terpengaruh
oleh asap karena mekanisme
pertahanan saluran napas mereka terutama
fungsi pembersih partikel sudah
berkurang. Pajanan asap akan meningkatkan
kemungkinan infeksi saluran napas
oleh bakteri dan virus akibat penekanan
aktivitas makrofag sehingga timbul gejala
pneumonia dan komplikasi pernapasan
lain.14
Pencegahan dan penanganan penyakit
Upaya terbaik tentu mencegah kebakaran
hutan, ini perlu jadi prioritas utama. Karena
keterbatasan sarana kesehatan dalam
mencegah bahaya kebakaran hutan maka
usaha pencegahan paling utama adalah
mengatasi sumbernya yaitu memadamkan
kebakaran itu sendiri. Perlu dibina kerjasama
lintas sektoral kesehatan, lingkungan
hidup dan pihak meteorologi yang baik
untuk memantau polusi akibat kebakaran
hutan. Kalau asapnya telah menyebar,
perlu dilakukan berbagai tindakan untuk
melindungi masyarakat luas dari pajanan
asap.2 Masyarakat sedapat mungkin melindungi
dirinya sendiri dari pajanan asap dan
pemerintah setempat memberikan penyuluhan
tentang bahaya dan cara pencegahan
kebakaran hutan.3
Saat ini cara pencegahan yang banyak digunakan
adalah pemakaian masker karena
relatif murah dan dapat disebarluaskan
tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan.
National Institute of Occuposional Safety
and Health (NIOSH) telah melakukan
pengujian di Amerika Serikat dan menetapkan
beberapa jenis masker yang
mampu menyaring lebih dari 99% partikel
silika berukuran 0,5 μm. Beberapa badan
kesehatan lain merekomendasikan masker
yang baik yaitu mampu menyaring lebih
dari 95% partikel > 0,3 μm dan biasanya
diberi kode R95, N95, atau P95. Masker
ini harus dipasang dengan cukup rapat
sehingga udara tidak dapat masuk di selasela
pinggiran masker dan kulit wajah; hal
yang tidak mudah dilakukan. Alat bantu
napas bisa digunakan setelah penatalaksanaan
lain yang lebih efektif, antara lain
dengan mengurangi pajanan, termasuk
tinggal di dalam rumah, dan mengurangi
aktivitas, terutama pada individu yang
sensitif.14
SIMPULAN
1. Kebakaran hutan merupakan masalah
kesehatan yang serius
2. Asap polusi terkandung dalam biomassa
yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan
paru, terutama yang berukuran <10
mm
3. Dampak asap terhadap kesehatan
berupa berbagai gangguan dan keluhan
pernapasan, terutama pada orang yang
berisiko tinggi atau sensitif
4. Kebakaran hutan mutlak harus dicegah.
Tabel 2. Berbagai dampak kesehatan akibat terpajan kabut yang terkait dengan kebakaran
hutan di 8 Provinsi di Indonesia, September - November 19971
Dampak kesehatan Jumlah kasus
Kematian
Asma
Bronkitis
Infeksi saluran napas akut
Kendala melakukan kegiatan setiap hari
Peningkatan perawatan pasien rawat jalan
Peningkatan perawatan pasien rawat inap
Kehilangan hari kerja
527
298.125
58.095
1.446.120
4.758.600
36.462
15.822
2.446.352
34
Tinjauan Pustaka
CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012
DAFTA R PUSTAKA
Rumajomi HB. Kebakaran hutan di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan [M 1. akalah pengantar Filsafah Sains, Program Pasca Sarjana]. Bogor: Institut Pertanian
Bogor; 2006.
2. Aditama TY. Dampak asap kebakaran hutan terhadap kesehatan paru. Jakarta: YP IDI & IDKI, 1999; p.3-33.
3. Brauer M. Health impact of biomass air pollution. WHO. [cited 2007 Nov 4]. Available from: http//www.firesmokeheealth.org.
4. National Interagency Fire Center. The science of wildland fire. [cited 2011 Jan 9]. Available from www.nifc.gov/preved/comm_guide/wildfire/fire 4.html.
5. Dawud Y. Smoke episodes and assessment of health impacts related to haze from forest fires: Indonesian experience. The Indonesian Association of Pulmonologist,
Persahabatan Hospital Jakarta; 1999.p 313-22
6. A Guide for Public Health Officials. Wildfire smoke revised July 2008. Available from: http://www.arb.ca.gov/smp/progdev/pubeduc/wfgv8.pdf
7. Disaster planning for lung health: Fire Fact Sheet. California Thoracic Society American Lung Association; 2008.p. 1-6.
8. WHO guidelines for vegetation fire events. Available from: http://www.who.effn/egry/fire.htm.accessed on november 15th,2005
9. Samet JM.Utell MJ. Indoor and Outdoor air pollution. In: Fisman Pulmonary Diseases and Disorders, 4th ed. New York : McGraw Hill Medica; 2008. pp. 1009-36.
10. Malilay J. A review of factors affecting the human health impacts of air pollutants from forest fires. Health guideline for vegetation fire. WHO october 1998.255-70.
11. WHO. Wildfires and heat-wave in the Russian Federation- public health advice. Aug. 19th, 2010.
12. D Schwela. The WHO-unepwmo Health Guidelines for Vegetation Fire Events. Department of Protection of the Human Environment, Occupational and Evironmental.
Dec 4th 2001.
13. Departemen Kesehatan. Parameter pencemar udara dan dampaknya terhadap kesehatan. [cited 2011 Jan 10]. Available from: www.depkes.go.id/downloads/udara.pdf
14. Englert N. Fine particles and human health – a review of epidemiological studies. Toxicol Letters 2004; 149: 235-42.
35
Tinjauan Pustaka
CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

No comments:

Post a Comment